Tak terasa waktu begitu cepat berlalu dan banyak hal yang masih terngiang dikepala ini yang tak sirna dimakan waktu. Hari demi hari dan waktu demi waktu terlewati begitu saja dengan membawa harapan akan hari esok lebih baik. Tak disangka dan tak diduga, aku terperosok lagi kelubang yang sama yang dahulu pernah aku masuk kedalamnya. Pengalaman adalah guru yang bijak dan pengalaman pula lah yang mengajarkan orang untuk menyibak masa depannya lebih baik. Aku tak belajar darinya dan ku sadari bodohnya diri ini.
Tertipu dan termakan ucapan acapkali membuat aku terpesona dan terpedaya karenanya, dan orang yang ku cintailah korban dari kebodohan ini. Sungguh aku memohon maaf padamu Bapak, Umi, Adik-adikku tercinta dan semua orang yang aku sayangi dan menyayangiku. Umi, semoga masih bisa anakmu ini memperbaiki akhlaknya terutama dalam membedakan mana orang yang harus dipercaya dan mana yang tidak.
Bukan sekali, lebih dari dua kali dan kali ini aku mendapat teguran lagi dari-Nya melalui Umiku yang aku cintai. Benar dan aku memang masuk kedalam lubang yang sama yang membuat diri ini jelas nampak bodoh dan dungu. Keridhoan-Nya ada pada keridhoan orang tua, sungguh aku benar-benar tidak ingin menyakiti orang tuaku dan aku harus belajar dan terus mengembangkan pengetahuan diri agar aku tidak lagi dapat dibodohi orang-orang yang hanya memanfaatkan kebodohanku untuk kepentingan pribadinya saja.